Pages

Sabtu, 05 September 2015

Resensi "Rumah" Kumpulan Puisi Karya Hardi Rahman


Berbicara tentang puisi pasti tak jauh dari sosok penyair muda, Hardi Rahman. Berdomisili  di Balaraja - Tangerang, ia menulis puisi dari berbagai latar belakang dan ide. Ide bisa muncul di mana saja, tapi tidak di awang-awang. Ia bisa muncul di ujung kuku-kukumu yang lupa kau potong, di potongan koran yang tertiup angin lalu mendarat tepat di wajahmu, di gelang hijau pemberian kakekmu saat diajak mengitari kebun singkongnya, di sandal yang mulai tipis dan luntur mereknya, di layar komputer yang seharian kau tekuri, di status-status yang kau anggap begitu mengganggu, juga di pusaran terakhir teh hangat yang kau aduk sebelum kau mencecapnya.

Bagi Hardi Rahman alias Hardia Rayya, ide juga muncul di detil terkecil sudut-sudut rumahnya. Di pintu, di jendela, di dinding, di teras, di atap, di lemari, di tempat tidur, di atas meja, di pisau, di kolak yang ia nikmati, bahkan di bak mandi yang nyaris setiap hari digunakan. Sudut-sudut dalam rumah yang seringkali dianggap biasa. Bahkan terlalu biasa. Dianggap tak istimewa, tapi tidak bagi Hardi Rahman.

Melalui sudut-sudut dalam rumah itulah, Hardi Rahman membungkus hangat kerinduan, perjuangan dan segala kesakitan sekaligus kesenangan dalam puisi-puisinya.
 
***

....

dan mari, bersama kita sejenak di sini
di balik jendela
menatap langit dan berusaha menebak cuaca

—Dikutip dari puisi "Jendela" karya Hardi Rahman—

Sabtu, 08 Agustus 2015

Resensi Novel Semburat Senyum Sore karya Vinca Callista

"Kalau kita enggak bisa dapet apa yang kita suka, lebih baik kita suka apa yang udah kita dapet ...."

Langit kini sedang cerah dan mendung. Ditengah kegembiraannya mendapatkan kesempatan membuat naskah film untuk menyambut ulang tahun Ganendra Radio, ia juga mendapat masalah di keluarga dan hatinya. hal itulah yang membuat ia cuek terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Sebagai seorang penyiar radio, tidak sulit untuknya dalam hal bergabung dengan kawan baru, maka tak jarang jika sedang suntuk di rumah, ia menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama teman-temannya hingga larut malam. kuliahnya pun mulai terabaikan.

Langit yang cuek terhadap hidup dan lingkungan sekitarnya berubah setelah dia mengenal Nenek Romlah penjual tasbih dan gelang. Wanita tua itu dan cucu laki-lakinya itu menyadarkan Langit bahwa semua hal yang dimilikinya saat ini patut disyukuri, termasuk orang-orang yang selama ini dianggap Langit tidak menyayanginya.

Hari demi hari Langit habiskan dengan mengerjakan project film dan mengunjungi nenek Romlah. Ia dan temannya Thyo membelikan hampir semua kebutuhan nenek tua tersebut. Ia menyayangi sang nenek seperti kepada neneknya pribadi. perlahan, ketidakpeduliannya terhadap lingkungannya mulai memudar berkat sang nenek.

Semburat Senyum Sore, sebuah novel ringan yang layak dibaca siapapun. Novel ini memiliki latar kota Bandung dengan segala kesibukannya. Melalui novel ini pembaca dapat mengambil pelajaran bahwa kita sudah sepatutnya bersyukur atas apa yang kita punya. []








Bulakan, 
Sabtu 08 Agustus 2015
12:05 pm

Olahraga Semasa di Madrasah


Pagi-pagi berangkat kerja liat anak-anak MIN pada pakai seragam olahraga jadi inget waktu seumuran mereka dulu. sampai sekarang ternyata masih belum berubah. kalau mau olahraga harus jalan ke lapangan desa kurang lebih 1 km setelah sebelumnya senam pagi di sekolah bareng sama kelas lain. Paling bete kalo liat guru olahraganya ga ikut jalan kaki, tapi naik motor ke lapangannya sambil sesekali bilang "ayo jalannya yang rapi ya." atau " hati-hati banyak motor" atau "ayo semangat". heu.

Kenapa kami berolahraga di lapangan desa? karena memang kalau olahraga di lapangan sekolah terlalu sempit. belum lagi kalau main sepak bola atau kasti pasti kena kaca jendela sekolah. bisa repot kalau sampai pecah. 

Nah biasanya disana kami main kasti. salah satu olahraga yang saya tidak suka. kenapa? karena saya tidak pernah pas kalo mukul bola kasti yang dilempar oleh sang pitcher (pelempar bola) entah kurang tenaga saat memukul atau ga kena. pernah sekali saya gagal memukul bolanya dan bolanya malah kena muka saya. (jangan tanya sakit atau ngga kena lemparan bola begitu!)

kalau ga main kasti, pasti main sepak bola (buat yang laki-laki). Trus yang perempuan ngapain? bebas. ada yang main volly, skipping, ada juga yang cuma duduk-duduk ga jelas aja nunggu intruksi sang guru. absurd banget ya.

kadang kami yang perempuan juga main sepak bola. (dan saya juga ga suka olahraga ini). tapi ya namanya anak perempuan, mainnya juga sambil jerit-jeritan plus dorong sana dorong sini. haha
satu-satunya olahraga yang saya suka cuma bulu tangkis. mainnya ga ribet dan saya nyaman dengan permainan itu. oya, FYI, saya satu-satunya siswi di kelas yang main bulu tangkis dengan raket di tangan kiri alias kidal. (hello... penting emang ya dikasih tau kalo saya kidal?)

ya kira-kira begitulah suka duka berolahraga masa saya sekolah di madrasah dulu. entah anak-anak sekarang merasakan hal yang sama seperti saya atau tidak. semoga saja mereka ga males seperti saya. hehehe []










Bulakan,
Sabtu, 08 Agustus 2015

Senin, 27 Juli 2015

Perjalanan Bahasa dan Refleksi Diri





---
Sebersit keinginan untuk makan siang bersama Richard dan Kent - kakak beradik yang baru saya kenal di penginapan - muncul di hati saya, namun saya berpikir terlalu panjang. Tadi pagi mereka pergi ke kota dan mungkin baru akan tiba sore nanti. Pasti mereka capek. Mana mau mereka makan siang bersama saya?

Alasan demi alasan muncul di benak saya, memaksa saya untuk mengurungkan niat mengirim pesan singkat pada mereka untuk makan siang bersama. Saya hanya merenung menatap gelas yang sudah kosong di depan saya dan laptop yang layarnya sedari tadi dipenuhi screensaver gelembung sama sekali tak tersentuh. Ponsel yang tergeletak disampingnya menunjukkan sebuah kalimat singkat yang siap untuk dikirim, tetapi ponsel itu juga tidak saya sentuh.

'Have you eaten? Can I go for lunch with you guys?'

Dua puluh menit kemudian, saya menekan tombol send, dan balasan dari Kent datang semenit kemudian.

'Sorry, we are eating right now. But you can join us to go for Yukusugi Land after this!'

Lagi-lagi saya khawatir terlalu banyak dan terlambat mengambil keputusan.

----


Baiklah, harus saya akui bahwa saya bukanlah orang yang mudah bergaul. Apalagi dengan orang baru. Butuh waktu lama bagi saya untuk dapat mencairkan suasananya. Namun saat saya memberanikan diri untuk menyapa Richard dan Kent, dari sanalah saya mulai mengerti bahwa sapaan sesederhana 'Hai' dapat membuat kita lebih mengenal orang lain.

Mengenal mereka di penginapan membuat hari saya lebih berwarna. Saya merasa aneh sekaligus geli pada diri saya. Saya yang biasanya selalu menyendiri kini amat terhibur dan mungkin mulai ketergantungan dengan candaan mereka. Tak jarang mereka juga memperdebatkan hal-hal kecil yang membuat saya terkekeh sendiri seperti sedang menonton pertunjukkan.

Hari ini merupakan hari terakhir mereka di penginapan. Sebelum mereka pulang, Kami memutuskan untuk pergi ke air terjun Ohko no taki. Menikmati deru air yang membuat pikiran tenang. Setelah puas, kami melajukan mobil terus ke barat. Melewati jalan sempit yang berliuk. Mengelilingi pulau lebih jauh lagi. Melewati lembah, hutan kecil dan memperlambat laju mobil saat di pinggir pantai.
Setelah itu waktu memaksa kami untuk melaju pergi ke pelabuhan. Dan kami berpisah disana.

Mereka pergi, to a place thay they call home.

Saya sempat merasa kesepian. Pertengkaran mereka dan canda tawa mereka begitu membuat saya ketagihan.

Sebagian hati saya ingin terus bersama mereka. Mengekor kemanapun mereka pergi.

But that's not the way it is.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan.

---

 
'A travel is best measured with friends, not miles.' - Tim cahill

Sehari setelah Richard dan Kent meninggalkan penginapan, Saya sempat tercekat beberapa kali mellngingat Kakak beradik itu. Padahal hanya tiga hari saya mengenal mereka. Namun kehadiran mereka benar-benar membuat saya terhibur.

Jujur, saya merasa kesepian.

Kamar penginapan terasa sepi tanpa mereka. Saya jenuh berada di dalam kamar seorang diri (sebenarnya tidak benar-benar sendiri, teman sekamar saya sekarang adalah bapak-bapak yang berasal dari Prancis dan tidak mahir berbahasa Inggris maupun Jepang. Ia juga lebih memilih meringkuk di tempat tidurnya)

Karena bosan, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar penginapan. Baru sampai di Lobby, saya sudah bertemu dengan orang-orang baru yang sedang asik mengobrol. Beberapa dari mereka merupakan pegawai penginapan yang sudah saya kenal. Disana ada seorang gadis muda bermata sipit yang sepertinya berasal dari Korea bernama Mami, Seiko sang resepsionis yang gemar berbohong dengan mengatakan bahwa ia berasal dari Mongol, China atau Korea kepada siapapun orang baru di penginapan padahal ia asli dari Kyoto. Ia termasuk orang yang mudah akrab dengan siapapun hingga setiap ucapannya selalu memunculkan gelak tawa, Katsuo yang selalu tersenyum kepada semua tamu di penginapan dan beberapa pegawai lain yang sedang asik bercengkrama.

Di penginapan ini semua pegawainya memang terlihat santai, tapi tak perlu tanyakan mengenai tanggungjawab mereka atas pekerjaannya, semuanya sudah pasti dikerjakan dengan baik.
Segera saja saya mendekati mereka dan bergabung mengobrol bersama.

"Aku asli dari Mongol, lho" Keiko berkata kepada Mami dengan mantapnya. "Lihat saja tulang pipiku, ini menandakan bahwa aku asli dari Mongol." Ucapnya lagi.

Mami hanya mengangguk saja mempercayai kebohongan Keiko tersebut. Saya dan yang lain tertawa terbahak melihat respon Mami. Ia tersentak dan menatap kami keheranan. dengan terus menahan tawa, Saya pun menjelaskan kepadanya mengenai kebohongan Keiko.

Mami kemudian bertanya mengenai asal negara saya. Dengan bangga saya mengatakan bahwa saya berasal dari Indonesia. Namun ia tidak langsung percaya.

"Oh ayolah, aku tidak sedang dibohongi lagi kan?" Ucap Mami kesal. Kami pun tertawa melihat kekesalannya tersebut. Saya beberapa kali harus mengucapkan kalimat dengan bahasa Indonesia untuk meyakinkan Mami.

Perlahan rasa kesepian saya pun mulai menguap. Menghilang bersamaan dengan tawa yang terus muncul dari percakapan di Lobby tersebut. Dari sini saya baru mengerti apa maksud dari ucapan Tim Cahill tersebut bahwa perjalanan kita bukan diukur dari jaraknya namun dari teman. Teman disini bukan hanya saat kita mengenal orang baru, namun saat kita bisa menerima perbedaan diantara keduanya.

I don't know that meeting new people and building relationship can be so excting!

---

Selasa, 07 Juli 2015

Resensi novel Meramu Hati karya Nela Fayza


Novel Meramu Hati karya Nela Fayza benar-benar membuat saya seperti kembali ke masa-masa SMA dulu. Novel ini menceritakan tentang seorang remaja putri yang baru masuk SMA bernama Khanza Nabila yang mengidolakan kakak kelasnya yang notabene anak Rohis dan alim bernama Muhammad Malik Al-Mubarokfurry. Di masa awal SMA memang tidak sedikit kakak kelas yang dengan sengaja maupun yang tidak disengaja tebar pesona kepada murid-murid baru. Dan sudah dipastikan banyak murid baru yang jadi ‘pengagum rahasia’ sang kakak kelas. Begitu pula dengan Khanza. Ia amat mengagumi Malik walau Malik sama sekali tidak mengenalnya.

Malik sebenarnya sama sekali tidak pernah tebar pesona kepada siapapun termasuk kepada Khanza. Mereka bertemu di perpustakaan sekolah saat Khanza dan beberapa temannya tengah mengikuti remidial ulangan fisika, salah satu pelajaran yang dibenci Khanza. Saat itu Malik sedang mengajari temannya entah pelajaran apa dan kemudian ia mendekati Khanza untuk meminjam pensilnya. Namun pensil itu tidak juga dikembalikan kepada Khanza. Tentu Khanza merasa kesal terhadap Malik. Mungkin kesannya berlebihan, marah hanya karena kehilangan pensil. Meskipun harganya tak seberapa, tapi pensil itu tetap miliknya yang harus dipertahankan. Begitu fikirnya.
 
Kejadian yang tidak menyenangkan tersebut justru membuat Khanza semakin memperhatikan Malik. Awalnya ia tetap kesal karena pensilnya tidak juga dikembalikan, namun kekesalannya berubah saat ia tahu bahwa Malik sangat pintar, alim dan juga rajin beribadah. Sejak saat itu ia mulai mengagumi Malik. Khanza sebenarnya anak yang berprinsip tegas pada dirinya dan sangat paham tentang ajaran agama islam. Ia juga mengerti bahwa tidak ada istilah pacaran dalam islam. Tetapi, sebagai anak baru gede dan masih labil, tetap saja dalam lubuk hatinya ia berharap agar ia dan Malik dapat saling mengenal dan syukur-syukur bisa berpacaran dengannya. Maka tak jarang hal-hal sepele yang berhubungan dengan Malik bisa membuatnya tersenyum atau bahkan bersedih sepanjang hari.

Setiap hari ia memperhatikan sang idola di depan kelas. Seperti takdir yang sudah digariskan oleh Allah, ada saja kejadian yang membuat mereka tidak sengaja bertemu dan bertatap muka. Entah itu di kantin sekolah, lapangan, masjid atau bahkan saat ia melewati mading sekolah pun Malik ada disana. Kejadian sederhana yang sebenarnya sepele itu semakin membuat Khanza bahagia berada dekat dengan Malik. Padahal ia pun tahu bahwa bagi Malik mungkin hal itu sama sekali bukan hal yang spesial.

Semakin hari Khanza semakin sering memperhatikan Malik. Ia sampai mencari tahu akun facebook Malik dan menambahkannya sebagai temannya. Tidak hanya itu, ia juga menyimpan foto-foto sang idola yang ia ambil dari facebooknya secara diam-diam. Hari demi hari ia habiskan untuk memikirkan Malik, Malik, dan Malik seolah tidak ada hal lain yang lebih penting dari sosok Muhammad Malik Al-Mubarokfurry Tersebut.

Sampai akhirnya ia harus benar-benar menyadari bahwa dirinya dan Malik memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Walau ia rajin me-like status facebook sang idola, mengiriminya pesan baik melalui facebook maupun SMS namun tanggapan Malik tetap saja dingin. Ia mengacuhkan Khanza. Semua pesan Khanza hanya dijawab seperlunya oleh Malik, sampai puncaknya Setelah hari kelulusan Malik, ia  menghapus pertemanannya di facebook dengan Khanza dan tak pernah lagi menjawab pesan yang dikirimkan oleh Khanza. Tinggallah Khanza kehilangan separuh hatinya. Pupus sudah semua harapannya dan Ia mulai mencoba menata hati kembali dan memfokuskan diri untuk belajar serta meraih cita-citanya meskipun bayang-bayang Malik masih tetap menghampirinya. 

Namun saat ia sudah berhasil untuk tidak menumbuhkan potongan-potongan harapan kepada Malik, mereka justru dipertemukan kembali oleh Sang Pemilik Cinta pada suatu waktu yang sama sekali tak terduga sebelumnya. Khanza pun mendapat semua jawaban atas semua pertanyaan dalam benaknya tentang kepergian Malik, hilang sudah kegelisahannya terhadap Malik yang pergi meninggalkannya begitu saja. Semua penjelasan Malik kemudian menjadi sangat jelas untuk Khanza. Ia bahagia walau tak pernah ada hubungan apapun diantara mereka.

Cerita dalam novel ini memang terkesan sangat biasa dan sudah umum. Namun tema keagamaan dalam pemahaman seorang remaja sangat mengena untuk remaja yang baru mengenal cinta. Ditambah dengan latar tempat yang dituturkan oleh sang penulis benar-benar membuat saya sebagai pembaca terbawa ke memori masa SMA dimana hampir sebagian besar hal yang terjadi pada Khanza pernah saya alami juga. (ternyata saya juga pernah labil, hehehe)

Beberapa hal yang membuat novel ini tidak sekedar tentang cinta remaja adalah adanya kutipan ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang dituturkan oleh sang penulis menggunakan bahasa yang sederhana namun bermakna dalam untuk semua pembacanya. Saya sangat menyukai bagian saat Khanza memanjatkan doa kepada Allah demi memohon yang terbaik untuk dirinya dan menyadari kesalahannya, salah satunya adalah doa berikut ini:


“Ya Allah, inikah sebabnya Kau selalu membiarkanku patah hati? Sebenarnya Kau berniat melindungiku dari permainan cinta, tapi aku tidak pernah sadar, sampai kadang aku meminta hal yang salah. Dan ketika kau kabulkan, Arkan membalas perasaanku lalu ia meminta jawaban. Kini aku yang sengsara . aku tak tahu harus bagaimana. Aku takut salah ambil keputusan. Aku sadar, kali ini aku memang harus mendekatkan diri kembali kepada Engkau. Aku harus tau maksud Engkau dari semua ini, Apakah cinta ini sebuah anugerah atau sebuah ujian?”


Selain itu, beberapa kutipan hadist juga menjadikan novel ini sangat layak untuk dibaca oleh kaum muda maupun dewasa.


“Siapa yang meringankan beban seorang muslim di dunia,
pasti Allah akan meringankan beban di akhirat kelak.
Siapa yang memudahkan orang yang dalam keadaan susah,
Pasti Allah akan memudahkan urusannya di  dunia dan akhirat.
Siapa yang menutup aib seorang muslim,
Pasti Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.
Dan Allah akan selalu menolong hambaNya,
Jika hamba tersebut menolong saudarannya.”
(HR. Muslim)


Pahit manis dan suka duka cinta bisa Khanza rasakan selama ia mengagumi malik tanpa adanya hubungan spesial diantara mereka. Maka, seperti yang dikatakan Nela Fayza sang penulis, “Tak perlu pacaran hanya untuk tahu apa rasanya cinta.”








Bitung,
Selasa, 07/07/2015


Rabu, 17 Juni 2015

Cerpen: Liburan untuk Keiko


Oleh: Siti Nadroh



                Ohayo minna-san… lihat lihat, minggu kemarin aku baru saja pergi berlibur ke Hawaii bersama keluargaku. Kami naik kapal pribadi milik ayahku, hadiah dari perusahaan tempatnya bekerja. Fotonya bagus-bagus kan.” Ucap seorang anak laki-laki berpenampilan rapi saat melangkah kedalam kelas. Semua anak yang sedang mengobrol langsung menoleh kearah datangnya suara, mulai berkumpul mendekati anak tersebut.

                “Indah sekali pantainya.” Ucap Keiko, salah satu teman sekelas Nakashima. Ia terkagum-kagum melihat foto-foto tersebut. “ Tapi… Hawaii itu kan jauh, hebat sekali kamu bisa pergi berlibur kesana.” Ucapnya dengan sangat polos. Ia tidak sadar bahwa ucapannya tersebut hanya akan menambah kesombongan Nakashima saja.

                “Tentu saja bisa. Ayahku akan menuruti apa saja yang aku inginkan. Biasanya kami pergi berlibur ke Eropa, tetapi karena kemarin waktu liburan ayahku tidak lama, maka aku memilih Hawaii sebagai tujuan liburan kami kali ini yang jaraknya paling dekat dari Tokyo.” Dari nada suaranya sangat terlihat bahwa ia ingin dipuji teman-temannya.

                “Suatu saat nanti aku akan berlibur kesana juga.” Keiko bergumam pelan.

                Nakashima yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Keiko langsung berkomentar, “Kamu sih mana mungkin bisa pergi kesana. Semua teman-teman disini juga tau kalau ayahmu sangat sibuk membangun gedung-gedung tinggi itu. Bahkan ketika ada kunjungan orang tua ke sekolah saja ayahmu tidak pernah hadir. Sepertinya ia tidak punya waktu untukmu. Kasihan sekali kamu.” Ucapnya dengan nada menyindir.

                “Itu tidak benar! Tidak lama lagi ayahku pasti pulang ke Tokyo dan mengajakku pergi berlibur bersama Ibu.” Keiko berkata sambil menahan tangis. Kemudian ia berlari keluar kelas, tak bisa lagi menahan airmatanya. Teman-temannya yang lain saling melirik, terdengar juga tawa kecil diantara mereka.


***


                Pagi itu, setelah libur tahun baru, Nakashima, murid kelas 4B yang berasal dari keluarga kaya kembali memamerkan kisah liburannya kepada teman-teman sekelasnya. Sudah menjadi kegiatan rutin baginya untuk melakukan itu setiap hari pertama sekolah setelah libur panjang. Dan sudah bisa dipastikan teman-temannya yang lain hanya bisa iri saja terhadapnya, termasuk Keiko. Ia bahkan jarang sekali pergi berlibur. Ayahnya seorang kontraktor bangunan di kota Kagoshima. Jaraknya yang cukup jauh dan pekerjaannya yang seolah tidak pernah berhenti membuat ayahnya tidak bisa pulang setiap hari. Maka ia hanya mengunjungi Keiko dan ibunya beberapa bulan sekali saja dan waktunya tidak bisa ditentukan.

                Pernah suatu ketika ayahnya pulang ke Tokyo. Saat itu Keiko sedang ujian kenaikan kelas sehingga ia tidak bisa bolos demi pergi berlibur dengan ayahnya.

                “Berapa lama ayah di Tokyo? Bisakah ayah pergi berlibur dulu denganku dan ibu sebelum kembali ke Kagoshima?” Tanya Keiko disuatu malam saat mereka berkumpul di ruang keluarga. Ia sangat berharap ayahnya akan memberi jawaban yang ia harapkan.

                “Tiga hari lagi ayah harus kembali ke Kagoshima,Sayang. Maafkan Ayah.”

                “Ujianku juga tinggal tiga hari lagi. Ayah minta izin cuti saja, kita pergi ke festival musim panas. Sehari saja. Ya?” Keiko masih mencoba meluluhkan hati ayahnya.

                “Maafkan ayah sayang, tetapi kali ini ayah benar-benar belum bisa pergi berlibur denganmu. Pekerjaan ayah sedang banyak sekali, tidak bisa ditinggalkan untuk waktu yang lebih lama lagi.”

                “Ayah selalu begitu. Kerja. Kerja. Kerja. Saat perayaan Tanabata kemarin juga ayah bilang begitu. Ayah tidak sayang aku. Harusnya ayah tidak usah datang saja saat aku sedang ujian seperti sekarang ini.” Keiko mulai menangis.

                “Bukan begitu, Sayang. Lain kali ayahmu pasti bisa berlibur bersama dengan kita.” Ucap ibunya mencoba menenangkan putrinya. Keiko hanya diam, memainkan pensilnya dan mencoret-coret bukunya.

               “Ayah janji. Musim gugur nanti kita pasti akan pergi berlibur bersama. Kita akan mendaki gunung. Menikmati suasana alam yang indah. Ayah akan berusaha!”

               “Ayah tidak bohong kan?”

               “Tentu saja tidak. Janji!.” Ayahnya mengangkat jari kelingking kanannya, membuat simpul dengan jari kelingking Keiko.

               “Janji.” Ucap Keiko, tangan kirinya sibuk menyeka air mata dipipinya.


***


               Beberapa bulan kemudian, tepatnya saat musim gugur tiba dan dedaunan yang tadinya berwarna hijau mulai berubah menjadi warna merah atau kuning, harapan Keiko untuk bisa berlibur dengan ayahnya ternyata belum juga tercapai. Ia mendapat kabar dari ibunya bahwa perusahaan tempat ayahnya bekerja sedang mengerjakan proyek besar yang sebenarnya tidak dipahami oleh putrinya itu, tetapi ia mengerti apa maksud dari ucapan ibunya. Ayahnya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Waktu libur yang biasa dimanfaatkan untuk pulang ke Tokyo pun terpaksa digunakan Ayahnya untuk tetap bekerja. Mengurusi pekerjaannya.

Mendengar kabar itu, ditambah dengan sindiran Nakashima pagi tadi menambah kesedihan di hatinya. Di kelas ia hanya terdiam, dan tidak bersemangat seperti biasanya.

               “Sudahlah tidak usah dipikirkan. Nakashima kan memang begitu orangnya.” Shimita, teman sebangku Keiko mencoba menghibur.

                “Tapi kan aku juga ingin pergi berlibur. Bahkan pergi piknik ke Kyoto menikmati makan siang bersama dibawah bunga sakura yang sedang bermekaran saja aku belum pernah.”

                “Tidak lama lagi kan sakura mekar, dan sekolah kita akan pergi Hanami ke Kyoto bersama dengan orang tua kita juga, kalau tidak salah sekitar bulan Maret. Coba saja kamu minta ayahmu untuk pulang ke Tokyo dan pergi Hanami bersama kita nanti.”

                 “Oiya ya, aku hampir saja lupa, dan yang kutau disana bunga sakuranya sangat indah, suasana di kuil Osshiro dan Otera juga tak kalah segar. Aku ingin pergi kesana.” Keiko bergumam, ia tersenyum.

                Sepulang dari sekolah ia langsung menyambar telepon yang tidak jauh dari tangga menuju kamarnya, ia tau saat ia pulang sekolah berarti ayahnya sedang makan siang, maka ia tidak ragu ataupun takut untuk menelpon ayahnya. Kan tidak sedang bekerja. Fikirnya.

Satu persatu ia menekan tombol telepon berdasarkan nomor ponsel ayahnya. Nada tuut tuut tuut terdegar lama. Membuat ia semakin tidak sabar untuk segera mendengar suara ayahnya.

                “Halo.” Terdengar suara khas ayahnya diseberang sana.               

                “Halo ayah, sedang apa? aku tidak mengganggu kan?”

                “Iya, Sayang. Ayah sedang makan siang. Kamu sudah pulang sekolah? Bagaimana harimu di sekolah tadi?”

                “Sudah. Umm… Menyenangkan.” Jawabnya singkat. Bukan ini hal yang ingin aku bicarakan. Batinnya. “Ayah, apakah bulan maret nanti saat sakura mekar ayah bisa pulang? Di sekolah akan diadakan piknik bersama ke Kyoto untuk menikmati sakura. Ayah bisa menemani aku kan?”

                “Ayah belum bias pastikan, Sayang. Sesegera mungkin akan ayah kabari ya.” Dari suaranya, Keiko tau bahwa ayahnya masih ragu.

                “Yah…. Ayolah, kali ini saja ayah. Sebab diundangannya tertulis “pergi piknik bersama Ayah dan Ibu”. Maka ayah dan ibu harus ikut menemani aku. Ayolah… kumohon.” Keiko memelaskan suaranya demi membujuk ayahnya.

                  “Baiklah sayang, akan ayah usahakan.”

                “Terimakasih ayah. Selamat bekerja kembali. Aku sayang ayah.” Seketika nada suara Keiko berubah riang seperti saat ia melihat salju turun di hari pertama musim dingin. Ayahnya disebrang sana hanya tersenyum, mulai berfikir untuk mengajukan cuti selama seminggu demi putrinya dan berharap-harap cemas akan mendapat izin cuti dari perusahaannya.

                Hari demi hari Keiko dengan sabar menunggu kabar dari ayahnya. Sesekali ia bertanya kepada ibunya, namun jawaban ibunya masih sama, “belum ada kabar sayang. Sabar ya.Ayahmu pasti pulang.”

               “Baiklah.” Jawab Keiko lemas sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

               Setelah hampir tiga bulan ia menunggu, pagi itu akhirnya ayahnya menelpon. Tepat sehari sebelum keberangkatannya ke Kyoto.

                “Halo sayang. Ayah punya kabar baik untukmu, ayah diizinkan cuti selama satu minggu!”

                “Benarkah? Jadi ayah bisa pergi piknik denganku? Ayah tidak bohong kan?” Keiko senang sekali mendengar kabar tersebut.

          “Benar sayang. Ayah tidak bohong. Ayah bisa ikut pergi Hanama denganmu dan kawan-kawan di sekolahmu.” Ujar ayahnya senang.

                “Asik… Terimakasih ayah. Lalu kapan ayah akan pulang ke Tokyo? Kita harus persiapkan semuanya.” Tanya Keiko bersemangat.

                “Sore nanti ayah akan pulang sayang. Tunggu ya.”

                “Baiklah, aku akan membuat boneka Teru-Teru Bozu dan menggantungnya di jendela kamarku.”

                “Hahaha…Yayaya… terserah kamu saja sayang, tapi ini kan musim semi, mana mungkin hujan.” Ledek ayahnya, anaknya memang kadang polos sekali.

                “Biar saja, aku kan suka boneka itu, dan aku yakin seperti yang diceritakan Ayah jika aku menggantungnya maka tidak akan turun hujan.”

               “Baiklah sayang, selamat membuat boneka. Ayah akan telpon kamu lagi nanti.”

               “Oke!” ucap Keiko. Percakapan siang itu membuatnya sangat bersemangat. Ia langsung menaiki anak tangga, masuk ke kamarnya dan sibuk membuat boneka Teru-Teru Bozu.

                “Nah, Teru-teru yang manis, kamu harus membantu aku untuk membuat matahari bersinar cerah besok. Jangan turunkan hujan ya. Sehari saja. Karena aku akan pergi piknik dengan ayahku melihat sakura. Besok adalah hari yang penting untukku. Jadi bantulah aku.” Ia berkata sendiri sebelum menggantungkan boneka Teru-Teru Bozu yang telah selesai ia buat.

               Setelah menggantungkannya, ia bersiap tidur. Sambil memandang boneka yang berayun terhempas angina malam itu ia bergumam, “Besok akan menjadi hari yang sangat mnyenangkan.” Kemudian ia terlelap dalam tidurnya.


 ***


                Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, namun betapa kecewanya Keiko saat mengetahui bahwa hujan turun sangat deras pagi itu, perkiraan cuaca di televisi bahkan mengatakan bahwa hujannya akan berlangsung seharian penuh disertai angin kencang.

                “Yaaahhh… Kenapa hujan? Padahal aku sudah susah payah membuat lima boneka Teru-teru bozu untuk menghalangi hujan.” Ia kecewa sekali.

                “Mau bagaimana lagi sayang, pihak sekolah barusan telepon, katanya karena cuaca buruk  terpaksa acara piknik ke Kyotonya dibatalkan.” Ayah berkata dengan sangat hati-hati.

                “Menyebalkan sekali. Bahkan untuk pergi melihat sakura saja aku tidak bisa. Aku memang anak paling tidak beruntung di dunia.” Ucap Keiko sedih, ia mulai menangis.

                “Kamu tidak boleh berkata seperti itu sayang. Kalau besok cuaca cerah, kita pergi ya.Tidak perlu menuggu kawan-kawanmu. Kita langsung pergi saja ke Kyoto.”Ayahnya mencoba menghibur.

                “Aku tidak percaya. Ternyata cerita ayah tentang Teru-teru bozu yang bisa menahan hujan agar tidak turun hujan itu bohong. Aku sudah malas. Jangan ganggu aku.” Jawab Keiko, ia melangkah menuju kamarnya. Usaha ayahnya untuk menghibur Keiko sama sekali tidak berhasil. Seharian ia hanya mengurung diri di kamar. Turun hanya pada waktu makan, dan kemudian mengurung diri lagi. Hingga malam tiba dan ia kembali terlelap.


***


                “Keiko sayang… Ayo bangun.” Kata ibunya dibalik pintu kamarnya.

                “Sebentar lagi bu, aku masih mengantuk, lagipula, hari ini kan sekolah masih libur. Aku ingin tidur sebentar lagi saja.” Jawab Keiko setengah sadar.

                “Apa kamu tidak mau pergi melihat sakura hari ini? Ibu sudah mempersiapkan semuanya lho. Ayo bangun.” Ucap ibunya, masih dibalik pintu kamar putrinya.

                “Kemarin kan hujan, pasti hari ini juga sama saja. Aku malas bu. Sudah tidak berminat lagi.”

               “Benarkah? Coba buka jendelamu dan lihat cuaca pagi ini. Ayo bergegas!”

               Seketika itu Keiko langsung bangkit dari tempat tidurnya, ia membuka jendela dan bersorak kencang, “Aaaahhhhh….. Cerah sekali. Ayo pergi piknik melihat Sakura di Kyoto. Tunggu aku Bu.”

               Pagi itu, keriuhan terjadi didalam rumah Keiko. Setelah sekian lama menanti, akhirnya impian Keiko untuk pergi berlibur bersama kedua orang tuanya tercapai juga. Hari itu benar-benar menjadi hari yang menyenangkan baginya. Boneka Teru-Teru Bozu yang menggantung di jendela kamarnya seolah ikut senang, ia berayun lembut di hempas angin pagi yang sejuk setelah hujan sehari semalam kemarin. 






THE END.





Daffodilss,
17 Juni 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Puisi - Tuhan Begitu Dekat

Selamat Pagi... wah sudah lama sekali saya tidak menulis di blog, maklum banyak tugas (haha.. sok sibuk). Baiklah, di pagi yang cerah ini saya akan sedikit membahas tentang salah satu puisi favorit saya. Judulnya "Tuhan Begitu Dekat".
 
"Tuhan Begitu Dekat" adalah sebuah puisi yang ditulis oleh pak Saut Poltak Tambunan. Pertama kali saya tau puisi ini bukanlah dari lomba baca puisi, atau acara kumpul anak sastra maupun tugas menganalisa seperti yang biasa diberikan oleh dosen di kampus mengingat bahwa saya mengambil jurusan Sastra, jadi tugas-tugas kuliah pun tak jauh dari menganalisa puisi. Oke lupakan tentang kuliah saya, (makin lama malah makin ngelantur ini tulisannnya). Let's back to the topic. Nah saya menyukai puisi ini karena pertama kali mendengar puisi ini dibawakan oleh group band indie dari Tangerang, yaitu 4Weekend. Grup band ini aktif di forum diskusi "Dapoer Sastra Tjisaoek". Tidak seperti kebanyakan orang yang membacakan puisi dengan berdiri dan serius, mereka biasanya membawakan puisi-puisi dari penyair ternama dengan musikalisasi puisi. 

Setiap bait dari puisi karya Pak Saut Poltak Tambunan ini sarat akan makna mengenai kesadaran manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya dihadapan tuhannya. Hal lain yang disampaikan melalui puisi ini adalah bagaimana pak Saut membawa kita pada kenyataan bahwa sebenarnya tuhan sangatlah dekat dengan kita, hanya saja kadang kita lupa dengan keberadaanNya. Rahmat dan nikmat yang tuhan berikan kepada manusia tak pernah berhenti, walau manusia itu sendiri kadang tidak mensyukuri apa yang telah ia dapatkan. 

Nah berikut ini adalah bait-bait dari puisi indah karya Pak saut Poltak Tambunan:


Seharusnya kupejamkan mataku
agar aku dapat menatapMu.
Seharusnya aku diam membisu
agar dapat mendengar suaraMu.

Seharusnya tanganku dekap terbelenggu
agar aku dapat menggapai jubah kemuliaanMu.
Seharusnya kakiku ku tekuk bersujud
agar aku dapat berlari mengejarMu.

Tetapi siapakah Engkau?
yang begitu dekat bahkan ada dan terdiam
di dalam aku.

Kepadaku kasihMu mengalir
bagaikan sungai bening yang tak pernah terputus
disegala ruang dan waktu
disepanjang peradaban.

Kepadaku setiaMu
senantiasa satu.
Bagaikan matahari dengan siang
disepanjang jalanku
disepanjang hidupku.



Sampai sini dulu pembahasan saya mengenai puisi ini (Ada atasan, maklum, ngetiknya menggunakan komputer kantor di sela-sela waktu senggang bekerha, hehehe). Semoga semakin banyak puisi-puisi lain yang bagus memiliki makna yang dalam. Dan anak muda masa kini semakin peka akan semua hal disekitar mereka, hingga mampu menggambarkannya kedalam bait-bait puisi. Tidak hanya tentang kegalauan cinta atau kesendirian yang menyiksa (haha, apalah, endingnya kacau!)


Sampai jumpa lain waktu.
Salam Sastra Indonesia^^






Cikupa,
Sabtu, 23 Mei 2015
11:23 AM