Pages

Senin, 01 Agustus 2016

Pulang



By: Archie Wellen
Retold by: Cristine Lindop
Trandlated by: Siti Nadroh




 

Rumah, bagi sebagian suku Aborigin di Australia berarti sebuah perkemahan diluar kota, jauh dari tempat-tempat orang kulit putih tinggal.

William Jacob Woodward (Billy) pulang ke rumah dimana dia tumbuh, rumah yang jauh dari kota tempatnya menjadi seorang pelukis dari suku Aborigin yang sukses dan seorang bintang sepakbola didunia orang kulit putih. Tapi, berada jauh dari rumah selama lima tahun adalah waktu yang lama…

***



I want to go home
I want to go home
Oh, Lord, I want to go home…

Suara penyanyi itu muncul dari kaset dan keluar melalui udara, memasuki dunia nyanyian burung-burung magpie dan keheningan malam.

Lelaki itu tidak tahu akan dunia itu. Dunianya adalah mobil baru yang berkilau, Kingswood besar yang melewati jalanan dengan cepat.

Akhirnya dia bisa berbangga hati dan berjalan dengan kepala diangkat tinggi seperti yang dilakukan leluhurnya bertahun-tahun yang lalu.  Dia baru saja melaksanakan pertunjukkan pertamanya satu bulan lalu. Semua lukisannya habis terjual lalu dia membeli mobil dengan uang yang dia dapatkan.

Tangan hitamnya menggerakkan roda hitam berkilau yang berputar di persimpangan. Selama lima tahun dia bekerja keras dan menabung, sekarang, diulang tahunnya yang ke duapuluhsatu, dia pulang dengan mobil baru, pakaian baru, dan hidup yang baru. Dia mengambil sebatang rokok dari sebuah kotak yang ada dipinggirnya, lalu menyalakannya. Rambutnya rapi dan pakaiannya bersih. 

Billy Woordward pulang ke rumahnya, dengan bangga dan gagah, seperti seorang tentara yang kembali dari medan perang.

***


Enambelas tahun. Tahun terakhir di sekolah.

Adiknya, Carlton dan sepupunya, Rennie Davis, berada dipinggir sungai, pada malam terakhir sebelum dirinya pergi ke universias di Perth, disana mereka bertiga merayakan pesta perpisahan, bersama gadis-gadis mereka disampingnya. Udara panas yang sunyi, sinar bulan disungai, suara bisikan dan tawa kecil. Juga dentingan botol-botol bir yang beradu.

Masa-masa di universitas, dengan semua tugas dan pelajaran, semua orang melakukan hal yang sama dengan cara yang sama – tapi saat bermain sepakbola, Billy menjadi berbeda dari biasanya.

Tangan hitamnya menangkap bola. Kaki hitamnya menendang bola. Loncatannya menyundul bola, melambung tinggi ke langit yang panas.

Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya. Dia lupa dengan sungai-sungai, orang-orang sedarahnya, dan seorang gadis dihatinya.

Saat dia berumur delapanbelas tahun, dia dipilih menjadi aggota tim terbaik di kota. Itu adalah tahun dimana dia bermain untuk Australia Barat. Saat itu, dia dianggap sebagai pemain terbaik. Itu adalah tahun-tahun kenangannya.

Dia tidak pernah pergi ke perkemahan di Guildford, jadi dia tidak pernah melihat orang-orang seperti dirinya; hitamnya, sunyinya, tatapan orang-orangnya, keributan dan ketakutannya, orang-orang yang mabuk. Dia yang sekarang seperti orang kulit putih.

William Jacob Woodward menyelesaikan masa lima tahun sekolahnya dengan hasil yang memuaskan. Semua guru sangat bangga kepadanya. Dia pergi ke Institut Teknologi Australia Barat untuk belajar melukis. Dia memakai pakaian bersih dan memotong rambutnya sehingga semua gadis disana menyukainya.

Billy adalah seorang lelaki yang tampan, dengan hidung dan dagu yang mirip kakeknya dan ketenangan dari leluhur suku Aborigin. Dia berdiri tegak dan penuh kebanggaan, dengan bibir sensitif dari seorang pemimpi dan tatapan mata cokelat emas yang tenang.

Dia pergi ke klub malam secara rutin dan duduk sendiri di satu sudut yang gelap, atau bersama seorang gadis yang dilukisnya. Dia biasanya minum anggur dan melihat orang-orang kulit putih berdansa diringi musik berirama cepat.

Dia sedang berjalan menuju rumahnya ketika seorang wanita aborigin setengah baya keluar dari sebuah gang dipinggir jalan dan setengah menghalanginya, kedua tangannya menarik kaos Billy. Wanita itu tertawa didepan muka Billy dalam keadaan mabuk.

“Billy! Ya, kau Billy Woodward, kan?”

“Ya. Siapa kau?” tanya Billy dengan ketus.

“Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Rose, bibimu, dari pedalaman Koodup.” Wanita itu tertawa lagi. Jelek, sangat jelek. Matanya merah dan kuning, giginya rusak, dan rambutnya kotor tidak terawat.

Dia dari suku yang sama dengan dirinya.

Dia mendorong wanita itu dan menginggalkannya dengan cepat. Tapi berhari-hari setelah kejadian itu, dia selalu teringat dengan wajah wanita itu setiap kali dia mencoba membuat sebuah lukisan. Dia merasa sangat malu bahwa orang seperti wanita itu sama seperti dirinya, dari satu suku yang sama.

Kehidupan Billy adalah: melukis gambar, bermain bola dan bersandiwara. Tapi orang-orang dari sukunya tahu, mereka selalu mengetahuinya.

Dipertandingan sepakbolanya yang terakhir, dia bermain melawan seorang lelaki setengah aborigin yang terus menatapnya selama permainan berlangsung dengan matanya yang hitam.

Setelah permainan berakhir, keluarga lelaki itu tiba dengan sebuah mobil tua besar. Billy, berdiri bersama teman-temannya yang berkulit putih, melihat kearah mereka dari kejauhan. Dia melihat anak-anak menendang bola dengan berteriak dan tertawa, dan dua orang lelaki disamping mobil itu membicarakan pemain yang lebih muda, seorang gadis cantik menoleh keluar dari jendela mobil, dan sepasang orang tua berada dibelakangnya. Ketiga lelaki itu melihat kearah Billy – Billy yang fashionable, bersama teman-teman kulit putihnya. Senyum mereka membeku beberapa saat, tatapan mata mereka seperti sebuah pisau yang menusuk Billy.

Oleh karena itu Billy pulang, karena dia teringat akan rumahnya saat dipertandingannya yang terakhir itu.
Malam itu hujan. Malam hari – waktu dimana perasaan takut akan hantu muncul seperti akan membunuh, dengan tidak meninggalkan jejak apapun ditanah dibelakang mereka, lewat bagaikan bayangan awan mendung disekitar matahari.

Pepohonan bergerak di bawah sinar yang redup. Sesuatu yang aneh berwarna hitam  dengan rambut yang panjang dan berantakan, menarik tangan Billy. Para leluhur seolah menangis, “ingat aku.” Suara jeritan atau bisikan yang lelah; lelah karena peringatan tak berguna yang tidak didengarkan. Billy tidak mengerti pepohonan itu. mereka melempar Billy ke depan, bahkan saat dia berfikir untuk kembali dan tidak pulang ke rumahnya – sebuah tempat yang dia pernah berjanji pada dirinya untuk tidak pernah kembali kesana lagi.
Terdengar langkah kaki di jalan tepat dipersimpangan Koodup.

Ternyata seorang lelaki suku Aborigin.

Billy menghentikan mobilnya, atau dia akan menabrak lelaki itu.

Pintu mobil terbuka.

Lelaki itu masuk kedalam mobil bersama angina dan hujan.

“Terimakasih, kawan. Dingin sekali disini.” Katanya, kemudian lelaki itu menatap Billy dengan mata hitamnya yang tajam. “Apa kau ini seorang Nyoongah*, kawan?”

“Ya.”

“Well, namaku Darcy Goodrich.”

Dia mengulurkan tangannya yang kasar, kuning kecokelatan, dan kotor. Suatu kesedihan seumur hidup melekat disetiap sela jarinya.

Billy berjabat tangan dengannya, “Namaku William Woodward.”

“Benarkah?” kedua matanya melihat kearah Billy lagi. “Kau menuju daerah sekitar Koodup, William?”

“Ya.”

“Bagus. Oh... mobil milikmu ini bagus sekali. kau pasti punya banyak uang, kan?”

Billy hanya diam.

Dia lebih suka kalau lelaki basah yang kedinginan itu tidak bersamanya. Dia tetap memfokuskan mata cokelat keemasannya ke jalanan didepannya.

“Punya rokok, William?”

“Tentu, silakan ambil sendiri.”

Jari-jari hitam itu membuka kotak rokok yang mahal milik Billy.

“Kau mau juga, kawan?”

“Terimakasih.”

“Apakah kau putra Teddy Woodward, William?”

“Ya, itu benar. Bagaimana kabar ibu dan ayah, dan semuanya?”

Akhirnya dia mengetahui semua tentang keluarganya dan larut dalam lautan kesedihan.

Darcy melihatnya dengan terkejut, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Dia menghisap rokoknya tanpa suara.

“Apa yang tidak kau ketahui?” tanyanya dengan pelan. “Ayahmu seorang pemabuk. Dia seorang pemabuk yang buta. Mobilnya datang entah dari mana ketika dia menyeberang jalan dimalam hari seperti ini. Tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang menghentikannya atau membantunya. Saudaramu Carl menemukan ayahmu dihari berikutnya dan tidak ada yang membantunya. Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.”

Beberapa tahun lalu – itu berarti saat Billy berumur sembilanbelas tahun, saat dia menjadi bintang sepakbola. Disalah satu malam yang bersinar bersama orang-orang kulit putih, saat dia hidup dengan kondisi yang baik ditemani anggur dan wanita kulit putih, Ayahnya justru meninggal di kota – seorang diri.  

Dia mengingat ayahnya sebagai seorang lelaki yang berani berbuat curang bahkan lebih baik dari orang lain di perkemahan saat bermain kartu disuatu acara. Dia bisa membuat perahu dari bulu-bulu bebek, kemudian dia, Carlton dan Billy berlomba dipinggir danau, dimana orang-orang dulu sering datang, awalnya.

Cahaya dari Koodup menyinari dirinya saat ia melewati sebuah tikungan.

“Kuberitahu padamu, kawan. Berhentilah di hotel lalu beli sekardus bir.”

“Baiklah, Darcy.” Billy tersenyum dan melihat lelaki itu untuk pertama kalinya. Dia akhirnya menyadari kalau dirinya butuh seoraang teman untuk menemaninya pulang dan bercerita tentang kehidupan lamanya.

“Kau pasti ingin bertemu dengan keluargamu lagi, kan?” tanya Darcy.

Keluarganya: Bibi Rose yang jelek, mendiang ayahnya yang dilupakan, kakak dan sepupunya yang nakal. Bahkan lelaki pendiam ini. Mereka semua adalah keluarganya. Berasal dari suku yang sama dengannya.

Dia tidak akan pernah bisa menyangkalnya.

Mobilnya berhenti disamping hotel, kemudian dua orang Nyoongah itu berlari dibawah hujan lalu masuk ke bar hotel yang gelap.

Pelayan bar disana lama sekali menghampiri mereka, walaupun bar itu sangat sepi pengunjung. Sepasang mata merah menatap Billy.

“Tolong sekardus bir.”

“Hanya orang bajingan yang minum bir di perkemahan. Polisi mengatakan kepadaku bahwa orang-orang yang banyak minum sepertimu hanya menimbulkan masalah.”

“Oh ayolah, kami akan meminumnya ditempat yang kami mau, kawan.”

“Benarkah? Kau memang bajingan!” pelayan bar itu menatap Billy dengan terkejut. “Baiklah, kau tidak akan mendapat apapun dariku. Kau bisa pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi. Mereka akan memberitahumu apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan, negro sialan yang pintar!”

Sesuatu menohok perasaan billy dengan sangat kuat sehingga dia ingin menarik pelayan bar itu dan memukulnya.

Billy berkulit hitam, dan pelayan bar itu berkulit putih, dan tidak ada yang bisa mengubahnya.

Setiap waktu billy bebas menikmati anggur di klub malam dengan pakaian berkelas dan dikelilingi oleh senyuman dari wanita – wanita kulit putih, dia bisa memainkan permainan orang-orang kulit putih bahkan lebih baik dari orang-orang di sukunya. Dan melukis pemandangan kotanya dengan warna-warna yang disukai orang kulit putih, sementara orang-orang sebangsanya justru meremehkan dan menganggapnya tidak berguna, selama itu pula dia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain di suku bangsanya.

Tapi pada akhirnya, dia hanya lelaki negro.

Darcy berajalan perlahan mendekati pelayan bar yang sedang marah itu.

“Permisi… Tuan Owett, tapi William baru saja pulang, lihat.” Katanya. Dia merasa malu karena telah membuat kesalahan. “Kami akan meminumnya di perkemahan, kau tahu.”

“Baru pulang? Mengapa dia dipenjara?”

Billy memukul pelayan bar itu sebagai jawaban, tepat diperutnya dan sangat menyakitkan.

“Baiklah... Baiklah, Darcy, aku akan melupakan kejadian ini sekarang juga. Hanya saja, jangan biarkan kawanmu ini membuatku kesal lagi.”

Mereka diguyur hujan lagi saat keluar dari bar itu dan masuk kedalam mobil. Lalu pergi menjauh melewati jalanan berbatu sekitar satu kilo meter meninggalkan kota. Darcy membuka satu botol dan memberikannya ke Billy.

“Kalau kau bertindak bodoh, kawan, kau akan pergi jauuuuhhhh dari kota ini.”

Billy minum bir pahit itu sangat banyak. Rasanya seperti sinar matahari setelah badai hebat. Dia mulai merasa tenang.

“Hey, Darcy, hari ini umurku tepat 21 tahun.”

Darcy tersenyum lebar dan menjulurkan tangannya.

“Duaputuluhsatu? Bagaimana rasanya?”

“Tidak ada bedanya dari kemarin.”

Billy menjabat tangan Darcy.

Mereka tertawa dan minum untuk merayakan hari ulang tahun Billy sambil menuju perkemahan. Gelap dan basah, dengan angin kencang dan hujan yang menyerang pondok-pondok suku aborigin yang tidak beraturan bentuknya. Darcy menunjuk ke sebuah pondok diujung perkemahan.

“Ibumu tinggal disana.”

Bangunan itu sederhana, terbuat dari logam dan kayu. Dua buah karung, dijahit menjadi satu, dijadikan sebuah pintu. Dimana-mana terlihat mainan berukuran kecil yang berserakan, dan lumpur.
Billy berhenti sedekat mungkin dengan pintu Dia sudah lupa seperti apa rumahnya.

“Ayo, kawan. Ayo lihat ibumu. Kau mungkin beruntung, dan lihat saudaramu.”

Perlahan dia keluar dari mobil, tempat yang sunyi dan kumuh itu menariknya.

Dia adalah salah satu anggota keluarga itu.

Dia mengikuti Darcy melewati pintu yang terbuat dari karung itu. Dia merasa tidak yakin dan khawatir sendiri.

Disana ada enam orang: dua wanita tua, seorang lelaki sangat tua, dua lelaki muda, dan seorang wanita muda yang pemalu, yang menanti seorang bayi. Lelaki muda yang berada paling dekat ke pintu melihat keluar dengan wajah yang kekuning-kuningan. Rambut hitam panjang terurai di wajahnya. Dia memakai baju berwarna merah dari bahan katun – merah untuk tanah leluhurnya, merah untuk darah yang jatuh ke tanah saat bangsa kulit putih datang. Merah, satu-satunya hal yang bersinar di tempat yang gelap dan membosankan ini.

Lelaki muda itu tersenyum tipis kearah Darcy dan birnya.

“Selamat siang, Darcy, dia temanmu?”

“Kau ini bodoh sekali, Carl. Dia ini kakakmu yang baru pulang.”

Carlton menatap Billy, tidak percaya dengan ucapan Darcy. Kemudian, senyumnya sedikit mengembang. Lalu dia berdiri, mengulurkan tangannya. Mereka bersalaman dan saling menatap, tersenyum. Kebahagiaan muncul secara perlahan diantara keduanya.

Lalu Rennie, sepupunya yang tinggi, kurus serta berambut kemerahan dan mata abu-abu, bersalaman dengannya. Dia mengenalkan Billy kepada ibunya, Phyllis, yang mengingatkan Billy pada China Groves dan Florrie Waters sebagai orang tua ibunya.

Ibu Billy duduk terdiam di meja dapur. Sebelah matanya tidak bisa melihat, sebelah lagi menatap putranya, tapi tidak ada pancaran selamat datang darinya. Dia terlalu angkuh untuk menunjukkan rasa sakitnya.

Dari wanita ini aku lahir, fikir Billy, seperti bunga yang muncul dari tanah. Dari perkemahan ini dia terbang.

Dia mengingat ibunya sebagai seorang wanita berkulit cokelat yang mudah tertawa, dengan rambut hitam panjang, dia bernyanyi dengan pelan sambil membersihkan rumah atau memasak. Sekarang dia sudah tua dan terlihat bodoh dengan segala kesedihannya.

“Jadi, akhirnya kau kembali. Kenapa kau tidak pulang saat kami memakamkan ayahmu? Kukira kau berfikir kalau kau jauh lebih baik dari keluarga lamamu, ‘kan?” dia bergumam dengan suara yang kecil bahkan sebelum Billy sempat mengucapkan salam. Lalu matanya kembali menunjukkan kesedihan.

“Hari ini ulang tahunku, bu. Aku ingin melihat semua orang. Tidak ada yang memberitahuku kalau ayah sudah meninggal.”

Carlton menatap Billy.

“Pasti yang ke duapuluhsatu, kan, Billy.”

“Ya.”

“Baiklah, kita harus adakan pesta,” Carlton tersenyum. “Kami akan membeli minuman.”

Carlton dan Rennie pergi ke kota dengan menggunakan mobil Billy. Saat mereka pergi, Billy merasa sungkan dan kesepian. Ibunya hanya menatapnya. Phyllis tidak mengucapkan apapun, dan neneknya mengobrol dengan Darcy, obrolan perkemahan yang tidak dimengerti oleh Billy.

Kedua saudaranya kembali melalui pintu dengan sebuah kardus yang ditaruh diatas meja oleh Carlton, kemudian dia mendekati kakaknya. Wajahnya menatap Billy seperti anak kecil yang menunggu untuk menunjukkan sesuatu yang dia buat kepada ayahnya. Bibirnya yang hitam berusaha tidak tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Billy.” Kata Carlton, lalu memberikan sebuah jam tangan emas yang berkilau dari dalam saku celana jins nya.

“Jam tangan itu hidup, Billy.” Kata Rennie disamping ibunya, Darcy dan China tertawa.

Gelak tawa menari didalam ruangan itu seperti daun-daun kering yang melayang lepas dari pohonnya.
Mereka minum dan mengobrol. Darcy pulang ke rumahnya dan para orang tua pergi tidur. Ibunya tidak berkata apapun kepada Billy sepanjang malam. Esok pagi Billy akan membeli beberapa gorden cantik untuk jendela, memasang sebuah pintu yang lebih baik, dan membeli baju yang paling bagus untuk ibunya.

Mereka teringat dengan kenangan indah saat Billy bukanlah William Woodward si bintang sepakbola dan artis, tapi Billy si anak nakal, dengan senyum lebar dan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik karena postur tubuhnya yang bagus.

Disinilah mereka – berkumpul bersama lagi, tapi sekarang Rennie akan menjadi seorang ayah, dan Carlton baru saja kembali setelah tiga bulan dipenjara. Dan Billy? Dia tidak dimanapun.

Akhirnya Carlton berdiri.

“Waktunya tidur.” Dia menepuk pundak kakaknya dengan pelan. “Sampai jumpa besok, Billy.” Dia tersenyum.

Billy berbaring diatas selimut dan memandang api yang hampir mati. Dalam fikirannya dia bisa mendengar suara ayahnya yang menceritakan sebuah kisah, dan suara ibunya yang menyanyi. Lalu dia tertidur.

***


Dia bangun karena mendengar suara burung-burung magpie di pepohonan yang sunyi. Dia turun ke lantai dan berjalan menuju pintu dengan perlahan.

Mata Carlton melihatnya dari balik selimut di tempat tidurnya.

“Kau mau kemana?” Dia berbisik.

“Hanya jalan-jalan.”

“Sampai jumpa lagi, Billy.” Dia tersenyum lalu kembali tidur. Billy pergi keluar.

Matahari dengan gerimis kecil muncul keatas bukit dan menyinari perkemahan. Gelas-gelas yang pecah terkena sinar matahari, terlihat putih, seperti tulang binatang yang mati. Beberapa anak muda berdiri mengelilingi mobil Billy. Billy melambaikan tangannya kearah mereka dan mereka balas melambai kearahnya. Setelah mandi, Billy pergi ke danau. Dia ingin – sangat ingin – mengingat ayahnya.

Dia berdiri disana, melihat kilauan hujan yang jatuh ke air yang hijau. Burung-burung bernyanyi dengan kencang dan jelas dari pepohonan disekitarnya yang berwarna hijau, cokelat dan hitam. Lalu dia berjalan kembali ke pondok. Asap dari api melambung keatas dan menyatu dengan awan mendung.

Saat dia tiba dipinggir perkemahan, sebuah mobil polisi dengan paksa berjalan melewati lumpur dan sampah. 

Seseorang yang berkulit putih menatap garang kearahnya. Mobil itu berhenti.

“Hey kau! Kemari!”

Orang-orang disekitar perapian melihatnya dari sudut mata mereka, saat dia berjalan mendekat.

“Itu mobilmu?”

“Ya.” Billy menatap polisi besar dengan seragam biru itu. disampingnya ada supirnya, polisi yang lain.

“Siapa namamu, dan darimana kau mendapatkan mobil itu?” tanya si supir.

“Aku sudah bilang kepadamu, itu mobilku. Namaku William Jacob Woodward, ada masalah?” Billy menjawab dengan marah.

Polisi itu keluar dari mobilnya. Dia melihat Billy yang hitam, yang tiba-tiba saja merasa kecil dan lemah.

“Kau saudara Carlton?”

“Jika kau ingin tahu –“

“Aku ingin kau tahu, kau negro sialan. Aku ingin tahu semua tentangmu.” Jawab polisi itu.

“Ya, seperti dimana kau semalam saat toko dirampok, secepat kau pulang kerumah dan menimbulkan masalah di bar.” Jawab si supir.

“Aku tidak membuat masalah, dan aku tidak terlibat dalam perampokan apapun. Aku suka caramu datang kemari saat ada masalah –”

“Jika kau tidak terlibat dalam perampokan, lalu jam tangan apa ini?” tanya polisi itu penuh kemenangan, lalu dia menarik tangan Billy yang sudah melukis banyak gambar indah untuk suku bangsanya. Dia menariknya ke punggung Billy, lalu melempar Billy kearah mobil polisi itu. jam tangan emas itu menggantung diantara jari-jarinya yang merah muda.

“Dengar, aku disini sejak semalam. Kau bisa tanyakan pada nenekku atau Darcy Goodrich.” Tapi perasaan Billy tahu kalau itu bukan solusinya.

“Jangan katakan itu padaku. Saat ada masalah, kalian, orang-orang sialan, akan bekerjasama seperti lalat mengerumuni toilet.” Kata si supir.

Tidak ada gunanya lagi. Tidak dengan pepohonan, yang dengan bebas melepaskan ranting kecilnya. Tidak dengan orang-orang disekitar api yang hangat. Tidak dengan hujan, yang turun membasahi leher dan kulitnya. Hanya lelaki besar dan mesin yang berkilau dengan tulisan POLISI dipinggirnya.

“Kau negro sialan, aku akan membuatmu – dan saudara kandungmu – menyesal. Semalam kau hampir membunuh si Peter tua.” Kata si polisi besar. Lalu supir yang berdiri disampingnya, menatap Billy dengan marah dibalik kacamata hitamnya.

“Kalian keluarga Woodwards semuanya sama saja, pencuri sialan. Jika kau fikir kau adalah seorang petinju dan memukul orang tua, kau bisa mencoba melawan polisi besar ini saat kami kembali ke pos.”

“Ayo tangkap yang lainnya, Morgan.” Kata si polisi besar. “Bu Riley bilang kalau ada dua orang lagi dari mereka.”

Billy dipaksa masuk kedalam mobil itu dengan kasar, dan duduk disana dengan malang saat mobil itu berjalan menjauh dari perkemahan. Dia melihat Kingswood baru yang berdiri di lumpur. Darcy, Rennie yang ketakutan, dan beberapa orang lain berdiri disana, menatap dengan hampa. Billy melihat polisi itu menarik saudaranya dari dalam pondok, matanya penuh kesedihan,menunduk ke tanah. Dia didorong masuk ke mobil bagian belakang.

Carlton melihat Billy dengan tatapan putus asa, lalu tersenyum lemah.

“Selamat datang di rumah, kakak.” Dia berbisik.





***






Catatan:
*Nyoongah adalah sebutan untuk penduduk asli suku Aborigin.

Archie Wellen (1957–) tumbuh di sebuah peternakan didaerah Barat daya Australia. Novel pertamanya yang berjudul Day of the Dog terbit pada tahun 1981 yang kemudian dijadikan sebuah film berjudul Blackfellas ditahun 1993. Buku dan filmnya memenangkan banyak penghargaan. Novel keduanya, Land of the Golden Clouds, diterbitkan pada tahun 1998. Dia juga menulis puisi, cerita pendek, dan drama. Menuturnya sangat penting bagi suku Aborigin untuk menulis tentang pengalaman hidup mereka karena “manusia mati dan membawa perasaan mereka bersamanya tapi tulisan tetap hidup selamanya.”




Rabu, 27 Juli 2016

Linguistics and Literature e-Books






Linguistic




1. (Bradford Books) Dan Lloyd-Radiant Cool_ A Novel Theory of Consciousness-The MIT Press (2003)

2. (Cambridge Textbooks in Linguistics) Andrew Radford-Analysing English sentences_ a minimalist approach-Cambridge University Press (2009)

3. (Cognitive Linguistic Studies in Cultural Contexts) Dr. Farzad Sharifian-Cultural Conceptualisations and Language_ Theoretical framework and applications -John Benjamins Publishing Company (2011)

4. (Facts on File library of language and literature) Christine Ammer-The Facts on File dictionary of cliches-Facts on File (2006)

5. (Heinemann English Language Practice) Richard Acklam, Sue Heap, etc.-Help with Phrasal Verbs-Macmillan Education (1992)

6. Meaning in Language An Introduction to Semantics and Pragmatics

7.  Basic Linguistic Theory Vol 3 (R.M.W Dixon)

8. (Human Cognitive Processing) Andreas Langlotz-Idiomatic Creativity_ A Cognitive-Linguistic Model of Idiom-Representation And Idiom-Variation in English -John Benjamins Publishing Co (2006)

9. (Pragmatics & Beyond New Series 173) Mara Sophia Zanotto (ed.), Lynne Cameron (ed.), Marilda C. Cavalcanti (ed.)-Confronting Metaphor in Use_ An Applied Linguistic Approach-John Benjamins (2008)

10. (Topics in English Linguistics 78) Stefan Thim-Phrasal Verbs_ The English Verb-Particle Construction and Its History-Walter de Gruyter (2012)

11. COURSE IN GENERAL LINGUISTICS FERDINAND DE SAUSSURE

12. Crary-Alice-Wittgenstein-and-the-Moral-Life-Essays-in-Honor-of-Cora-Diamond-2007

13. Elizabeth Barry-Beckett and Authority_ The Uses of Cliche (2006)

14. Ellen Contini-Morava-Cognitive and Communicative Approaches to Linguistic Analysis (1999)

15. DICTIONARY OF IDIOMS AND THEIR ORIGINS

16. THE ROUTLEDGE HANDBOOK OF CORPUS LINGUISTICS

17. Cristina Cacciari, Patrizia Tabossi, Cristina Cacciari, Patrizia Tabossi-Idioms_ Processing, Structure, and Interpretation-Psychology Press (1993)

18. English Words A Linguistic Introduction

19. INTRODUCING APPLIED LINGUISTIC

20. Eric Partridge-A Dictionary of Cliches (1978)

21. François Recanati-Literal Meaning-Cambridge University Press (2004)

22. INTRODUCING ENGLISH SEMANTIC

23. INTRODUCING ENGLISH LINGUISTIC CHARLES F MAYER

24. Martin Everaert, Tom Lentz, Hannah de Mulder, Oystein Nilsen, Arjen Zondervan-The Linguistics Enterprise_ From knowledge of language to knowledge in linguistics (Linguistik Aktuell Linguistics Today

25. PHRASAL VERB AND IDIOMS RAWDON WYATT

26. McGraw-Hill's Essential American Idioms Dictionary

27. LANGUAGE AND MIND NOAM CHOMSKY

28. Robert Audi-Moral Value and Human Diversity-Oxford University Press, USA (2007)

29. Research Methods in Linguistics

30. in_the_loop_pages

31. LANGUAGE - LEONARD BLOOMFIELD

32. Steven J. Taylor, Robert Bogdan, Marjorie DeVault-Introduction to Qualitative Research Methods_ A Guidebook and Resource-Wiley (2015)

33. STYLISTICS APPROACH PAUL SYMPSON

34. The Facts on File Dictionary of Proverbs

35. THE ENGLISH LANGUAGE FROM SOUND TO SENSE
 








Literature

1. GLOSSARY OF LITERARY TERM ABRAMS

2. THEORY OF LITERATURE WELLEK AND WARREN

3. INTRODUCTION TO LITERARY STUDIES MARIO KLARER

4. LITERARY THEORY A VERY SHORT INTRODUCTION - JONATHEN CULLER

5. THE ENGLISH NOVEL AN INTRODUCTION - TERRY EAGLETON

6. AN INTRODUCTION TO LITERATURE CRITISISM AND THEORY ANDREW BENNET

7. CONTEMPOPARY LITERARY THEORY

8. GeneologyofMorals(1)





Selasa, 26 Juli 2016

Dave Pelzer's Trilogy (E-Book English Version)

For everyone who are looking for the Trilogy of Dave Pelzer, please click the links below.



1. The Lost Boy




2. A Child Called It



3. A Man Named Dave



 Hope it useful for you, ^-^

Rabu, 20 Juli 2016

Pohon Ara yang Menangis





Penulis:  Judith Wright 
Diceritakan kembali oleh: Christine Lindop
Penerjemah:  Siti Nadroh


 

Terkadang, masa kini tidaklah cukup, orang-orang harus terhubung dengan masa lalu – untuk mengetahui sejarah keluarga mereka, siapa mereka, darimana asal mereka, bagaimana mereka hidup…

Di Barat Laut Queensland ada seorang pria yang mencari masa lalunya. Disini, matahari membakar daratan kering dan gersang, udara panas membuat mata menjadi merah. Bagaimana orang-orang – atau pepohonan – bertahan di udara panas yang mengerikan ini?



“Hanya sekaleng susu, saya khawatir, Tuan Condon. Saat Anda hidup di tempat seperti ini Anda harus mengharapkan itu.” Kata seorang wanita. Dia menggenggam dan mengangkat tinggi sebuah teko ke udara, menunggu jawaban.

“Oh – tidak, jangan susu. Terima kasih.” Sejenak dia melupakan wanita itu dan menatap pemandangan yang tidak ramah diluar. Lalu dia mendekati wanita itu dan mencoba mengobrol walaupun cuacanya terlalu panas untuk bergabung dengan pesta minum teh yang konyol itu. Wanita itu bahkan mengganti pakiannya!

“Apa Anda sudah lama tinggal disini, Nyonya Hastings?”

“Tidak. Harold datang kesini sebagai seorang menejer dua tahun lalu – itu terjadi sebelum saya menikah dengannya. Saya tidak mengerti mengapa dia tinggal di tempat seperti ini! Kami mengharapkan suatu pekerjaan di kota secepat kami bisa mendapatkan sebuah rumah. Tentu saja bayarannya bagus, itu benar. Tapi tujuhpuluh mil dari kota terdekat – bayangkan! Dan sejujurnya, Tuan Condon, Saya tidak berfikir kalau kehidupan di kota cocok untuk saya. Anda tahu, rumah lama saya ditepi sungai, cukup dekat ke pertokoan di kota – tepat ditengah-tengah. Tapi kalau Charlotte Downs – saya selalu berkata, “pemandangan terbaik Charlotte Downs adalah dari kaca saat kau pergi menjauh.”

Tuan Condon tertawa kecil, “Jadi, siapa pemilik tempat ini sebenarnya?”

“Oh, milik sebuah perusahaan, seperti kebanyakan tempat tua lain disini. Tidak akan ada orang yang memilih untuk tinggal disini, ‘kan? Saya tidak tahu sudah berapa lama mereka memilikinya. Kami kadang mendapat suatu kunjungan dari orang-orang penting – dengan mobil-mobil besar, anda tahu, dan pakaian yang bagus – tapi hanya dimusim dingin.” Ia agak marah lalu tertawa kecil. “Mereka tidak perlu tahu seperti apa akhir tahun disini, ‘kan?”

“Lalu, anda tidak tahu apakah ada bangunan-bangunan asli yang masih berdiri?”

Wanita itu terlihat bosan. “Tidak. Saya tidak pernah menanyakannya. Tapi Bertha mungkin tahu – dia selalu bekerja dirumah ini. Ayahnya bekerja disini dengan teko sepanjang hidupnya. Jika anda ingin bertanya kepadanya…”

“Baiklah, sebenarya saya memiliki sebuah alasan khusus, anda tahu.” Dia mulai menjelaskan. Tapi wanita itu tidak tertarik dengan alasannya.

“Bertha.” Dia memanggil seseorang dengan menghadap ruangan gelap diluar beranda. “Kemari sebentar.”

Senjenak sunyi, kemudian pintu dibelakang pria itu terbuka, lalu dia berbalik. Bertha datang mendekat – berumur lebih dari empatpuluh tahun, berkulit cokelat tua, bertelanjang kaki, dengan pakaian yang lusuh, berjalan penuh rasa sakit dengan kaki yang kurus kecil.

“Ya, Nona?”

“Panggil saya Nyonya Hastings, Bertha, bukankah saya sudah pernah mengatakannya kepadamu. Pria ini , Tuan Condon, ingin mengetahui sesuatu tentang bangunan-bangunan disini.” Dia menaruh rokok dan pergi dengan tidak sabar.

“Saya hanya bertanya pada nyonya Hastings…” – Condon berkata karena tidak enak hati – “Apakah ada bangunan-bangunan asli yang tersisa, yang pertama kali dibangun disini.”

Bertha mengangkat lengannya yang kurus. “Diluar sana, didekat pohon hijau besar, anda lihat?”

“Ya.” Jawab Condon.

“Itu adalah rumah tua, ayahku yang mengatakannya beberapa tahun lalu. Lihat, rumah itu terbuat dari papan. Mereka menggunakannya sebagai tempat penyimpanan – kayu, cat, dan lainnya. Hampir ambruk, Anda lihat?”

“Apakah ayahmu – apakah dia pernah mengatakan kepadamu tentang orang-orang yang membangun pondok itu? Orang-orang memanggilnya keluarga Condon.”

Wajah Bertha tidak menunjukkan apapun. “Tidak. Saya sedang memasak, Nona – maksudku, Nyonya Hastings. Sebaiknya saya pergi dan melihat masakan saya.”

Nyonya Hastings berjalan kearah Condon, pendengarannya jelas sekali. “Ada pertanyaan lain, Tuan Condon?”

Condon menggelengkan kepalanya dan berterimakasih kepada Bertha. Tidak ada yang tersisa disana. Tahun-tahun berlalu, debu dari musim-musim kemarau dan basahnya musim hujan sudah menghapus semua yang pernah ada. Tapi dia tetap ingin melihat bangunan itu sebelum dia pergi.

“Katakan padaku,” Nyonya Hastings bertanya, hanya sedikit penasaran, “berapa tahun yang lalu saat keluarga Anda disini?”

“Kakek moyang saya meninggal disini pada tahun 1865.”

“Ya tuhan! Dan anda masih tertarik dengan hal itu?” kata nyonya Hastings. “Apa Anda ingin pergi dan melihat bangunan itu, mungkin?”

Condon berdiri, “Ya, terimakasih. Saya harus segera pergi. Saya ada janji di kota malam ini.”

“Silakan anda pergi sendiri kesana.” Kata Nyonya Hastings. “Saya tidak akan keluar, udaranya terlalu panas. Tapi saya akan kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Tidak banyak tamu yang datang kesini.” Matanya dengan jelas menunjukkan kalau persoalan pengunjung disini adalah suatu kekecewaan yang nyata.

Condon berjalan menuruni tangga dan mendekati bangunan tua. Sambil meninggalkan beranda yang teduh, udara panas membawa helaan nafasnya. Menurutnya bulan November adalah bulan terburuk untuk pergi ke daerah barat laut Queensland. Jika perusahaannya mengirimnya kesana lagi untuk urusan bisnis, dia akan mencoba menolaknya. Nama kota itu Hambleton – kota yang membuatnya berhenti. Jadi, masih ada, fikirnya, Hambleton, nama yang muncul didalam buku harian tua yang sekarang tulisannya sudah menjadi merah muda, seperti darah kering diatas kertas. Jadi, tempat itu benar-benar ada. Kemudian dia memutuskan untuk melihatnya.

Bangunan kecil itu nampak buruk sekarang, tapi dia bisa melihat kalau bagnunan itu dibuat dengan sungguh-sungguh. Dia teringat akan cerita selama gedung itu dibangun, tertulis didalam buku harian, bulan demi bulan; memilih pepohonan, memotongnya, membuat papan, menggabungkan semuanya, kemudian memasang atap dan membuat lantai.

***

Ellen dan anak-anak pindah ke rumah itu kemarin. Sebuah pilihan terbaik daripada sebuah kereta kuda, dan mereka sangat senang. Masa depan terlihat bagus, dan ternaknya baik-baik saja.

***

Ia membungkuk untuk melihat bagian-bagian rumah yang terbuat dari kayu itu, hampir satu abad lamanya – ya, Stephen Condon tua sudah mengetahui pekerjaannya. “Tapi untuk apa aku mengetahuinya?” Dia bergumam dengan sedih. Oleh karena itu, jelas baginya jika pada akhirnya Stephen akan bangga dengan karyanya sendiri melalui cara yang tidak pernah diketahuinya.

Dibagian dalam, bangunan itu dipenuhi berbagai jenis sampah, dirawat lalu ditinggalkan oleh pemilik yang berbeda bertahun-tahun yang lalu. Dua roda tua untuk kereta kuda tersandar di pojok, ada beberapa papan kayu, logam-logam tua berukuran kecil yang aneh, tonggak kayu, untaian tali, kotak kosong, dan benda-benda rusak lain yang dilupakan – semuanya tertutup debu putih tebal. Bagian dalam rumah itu menghilang dibaliksampah tersebut.

Dia bisa melihat tempat dimana dulu terdapat sebuah jendela. Tempat dimana dia melihat Ellen, nenek moyangnya, yang datang dan hidup dalam fikirannya melalui lembaran buku harian itu. Disana nenek moyangnya duduk dan menjahit; disana nenek moyangnya bersandar, lemah karena sakit, sementara dua anaknya panas karena demam berada ditempat tidur yang keras; disana nenek moyangnya mengenal kesepian, ketakutan dan kebahagiaan. Ellen – berumur 17 tahun saat menika, 20 tahun saat ia datang ke Australia dari perbukitan hijau yang teduh di Devonshire, 22 tahun saat meninggal dunia, Ellen yang menyukai burung dan menyimpan beberapa potong roti untuk diberikan kepada burung-burung itu, Ellen yang membenci ular dan kehilangan putrinya karena gigitan ular. Dan disana, didekat cerobong asap, terdapat sebuah meja. Dia membayangkan Stephen yang sedang memotong kayu, membuat meja, dan memberikannya kepada Ellen.

Tetapi udara panas di pondok kecil itu membawa Condon kembali ke pintu. Dia bersandar diluar pintu sambil menghela nafas dan melihat sekeliling bangunan-bangunan rumah lalu kearah pepohonan kering dan tanah yang gersang.

Para pelopor. Betapa bodohnya orang-orang yang membicarakan tentang mereka. Pada akhirnya, para pelopor itu hanya manusia biasa seperti yang lainnya – mereka bukan orang-orang yang baik, atau lebih kuat, atau bahkan lebih baik. Jika mereka bisa memilih maka tidak akan ada orang yang memilih untuk hidup di tempat seperti ini, dia bisa membayangkan ucapan Nyonya Hastings. Atau justru orang-orang itu benar-benar berbeda? Apakah mereka menemukan makna yang lebih dalam, tujuan yang lebih baik, dalam hidupnya – lebih dari yang diketahui oleh nyonya Hstings dan dirinya, John Condon? Hal itu tidak berguna untuk ditanyakan – kau tidak bisa tahu lebih banyak selain apa yang diucapkan buku harian kepadamu.

Dan apa yang dikatakan buku itu tentang pondok mengerikan yang berada disampingnya? Kematian, kematian, dan kematian; harapan yang hilang, lalu hidup kembali; kesepian, kebodohan, kelaparan yang menjanjikan kematian – kemudian tulisan tangan terakhirnya menangis: istriku meniggal dunia. Tidak ada namanya, tidak pernah disebutkan lagi, dan buku harian itu berakhir.

Secara tidak sengaja Condon menemukan tempat istirahat, didekat laut, dibawah panasnya kota bagian utara, dimana Stephen Condon biasa menghabiskan waktunya untuk membaca koran-koran lama. Impian Stephen Condon tiba pada sebuah akhir yang menyedihkan; dia pergi dari Charlotte Downs, tidak meninggalkan apapun kecuali makam dibelakangnya. Dia mengemudi dan membawa putranya yang masih hidup, tigaratus mil kearah kota bagian utara itu, dan meninggal disana.

Apa yang terjadi setelahnya? John Condon tidak mengetahuinya. Hanya buku harian itu yang tersisa, ditemukan diantara lembaran kertas tua saat ayahnya meninggal dunia. Pada bagian sampul ayahnya menulis “Buku harian kakekku?”dan Stephen Condon menghilang dibalik tanda tanya itu, menjadi sebuah masa lalu yang hilang.

Lalu mengapa dia, John Condon, datang ke tempat itu? Tidak ada yang dia dapatkan selain rasa sakit kepala. Apakah dia ingin kembali ke tempat itu, sebuah daerah dengan panas yang mengerikan, dimana mata dan kepalamu seperti terbakar? Hal itu mungkin terjadi jika dia mampu membeli tempat itu – dan tentu saja dia tidak mampu – tidak, sebenarnya da benar-benar tidak menginginkannnya. Dia menutup pintu dan mencari tempat berteduh. Dia akan pergi sesegera mungkin setelah dia menemukan wanita itu dan mengucapkan perpisahan. Kematian! Tempat itu dipenuhi oleh kematian.

Terdapat sebuah tempat berteduh disekitar dinding yang mengelilingi pondok itu. Diantara panasnya udara dan sinar matahari yang membakar, dia melihat sebuah tempat teduh lalu berajalan mendekatinya sambil bersyukur. Kemudian dia memandang dedauan hijau rindang diatas kepalanya yang bergerak perlahan karena tertiup angin, menghasilkan kesejukan. Itu adalah sebuah pohon ara yang menangis.

***

Hari ini Ellen menanam pohon ara Port Jackson. Sepertinya mustahi pohon itu bisa bertahan, tapi dengan segala cara dia tetap menjaganya agar tetap hidup dekat kereta kuda. Kami menanamnya untuk masa tua kami dengan sebuah kursi dan meja dibawahnya, walaupun tingginya sekarang hanya satu kaki. Pohon itu akan menciptakan suatu kesejukan yang indah untuk taman kami…

***

Hari yang sangat sulit dan menyedihkan bagi kami berdua. Hari ini kami memakamkan Jane kecil dekat pohon ara itu. Ellen bilang kalau kami harus memakamkannya didekat rumah.

***

Semalam Ellen baru saja melahirkan seorang anak laki-laki, tapi dia meninggal sesaat setelah dilahirkan. Ellen sangat terpukul dan lemah. Satu putra masih tersisa untuk kami…

***

Suatu perjalanan gila – suatu perjalanan hati, bukan kepala. Walaupun Condon tidak bisa merasakan, tapi saat dia memandang bayang-bayang biru-hijau pepohonan itu, dia merasakan suatu kemenangan. “Baiklah…” katanya dalam hati, walaupun dia tidak benar-benar tahu kenapa, “maanfaatnya muncul.” Ya, pohon ara itu selamat. Pohon itu masih hidup dengan daunnya yang hijau; disebuah tempat yang gersang, pohon itu berhasil bertahan hidup. Dan keluarga Condons yang meninggal sudah memberikan darah mereka untuk membuat pohon ini menjadi sesuatu yang bernyawa. Pohon itu lebih tinggi dari apapun yang bisa dia lihat. Keluarga Condons dan pemandangan gersang itu – disana mereka bertemu. Itulah sumbernya – itulah yang mereka inginkan.

Nyonya Hastings berjalan perlahan melewati rumput kering, topi penghalang sinar mataharinya bersinar merah muda. “Mari minum sebentar sebelum Anda pergi, tuan Condon. Anda sudah berada disini hampir satu jam! Menurutku matahari sudah membuat Anda sakit.”

Tiba-tiba dia menunjuk keatas pohon itu. “Nenek moyangku dan dua anaknya dimakamkan dibawah pohon ini.” Sekarang, mengapa dia mengatakan itu? Akhirnya dia sadar kalau dia bangga dengan kenyataan yang ada.

Nyonya Hastings sedikit menjerit, “tapi… sungguh mengerikan! Sekarang saya benar-benar tidak suka dengan tempat ini. Saya merinding setiap kali berfikir tentang makam. Mari kembali ke rumah. Tidak lama lagi suami saya akan kembali; saya yakin dia akan sangat senang bertemu dengan Anda.”

Pergi menjauh, John Condon kembali menjadi seorang pengusaha. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk datang ke kota demi memenuhi janjinya. Tinggi dan gagah diatas tanah gersang, pohon ara yang menangis itu menggerakkan daun-daunnya penuh kemenangan, tapi John Condon tidak melihat kebelakang. Dia sudah mendapatkan apa yang menjadi alasannya datang kesana.




***





Catatan:



Cerita ini berjudul "The Weeping Fig" karya Judith Wright.

Judith Wright (1915 – 2000) terkenal karena puisinya walaupun dia juga banyak menulis cerita pendek dan buku anak-anak. Banyak orang yang menganggap dia sebagai salah satu penyair terbaik  Australia di abad 20. Dia memiliki cinta yang dalam terhadap alam Australia. Selama bertahun-tahun dia berkerja menjaga lingkungan dan memperjuangkan hak asasi suku Aborigin. Dia disebut sebagai “Suara hati Australia”. Dan dia meyatakan bahwa “Saya akan tetap menjadi seorang penulis dan pelestari alam selama hidupku.”