Pages

Minggu, 17 Januari 2016

Resensi Novel Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga) karya Yoshichi Shimada





“Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria.” (hal 63)

Cerita berawal saat Akihiro berpisah dengan ibunya pada tahun 33 era Showa (1958). Ia bahkan sudah ditinggalkan oleh ayahnya jauh sebelum ia dilahirkan karena pengeboman yang terjadi di kota Hiroshima. Sejak kejadian itu, roda perekonomian di kota tersebut menjadi teramat sulit. Akihiro tinggal bersama ibunya yang membuka usaha bar di rumahnya. Karena merasa kehidupan di Hiroshima tidak akan baik untuk pendidikan putranya, akhirnya sang ibu memutuskan untuk menyekolahkan Akihiro di kampung neneknya di Saga yang jaraknya sekitar 7 km dari kota Hiroshima (bagi Akihiro yang baru duduk dibangku sekolah dasar, jarak  tersebut  tentu sangat jauh.) tanpa sepengetahuan Akihiro, ia dibohongi oleh ibunya dengan alih-alih mengantarkan bibi Kisako pulang ke Saga. Ternyata sesampainya di stasiun kereta Hiroshima, ia didorong oleh sang ibu kedalam gerbong tak lama setelah bibi kisako masuk. Ternyata dirinyalah yang diantar pergi.


Keadaan di Saga ternyata satu tingkat lebih miskin dibandingkan dengan Hiroshima. Ia seolah kembali ke jaman berpuluh-puluh tahun lalu. Sang nenek tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan atap jerami persis seperti dalam kisah rakyat jepang. Setibanya di rumah Nenek Osano (58 tahun) ia langsung diajari memasak nasi dengan tungku tua dan kayu bakar. “selanjutnya setap hari kamu yang akan memasak nasi.” Ucap sang Nenek. Pada saat itu, ia menurut saja melakukan kegiatan tersebut meski dengan pertanyaan-pertanyaan mengherankan yang muncul didalam benaknya. 


Sejak hari itu, kehidupan baru Akihiro pun dimulai. Walaupun usia sang nenek sudah menginjak 58 tahun, tetapi ia masih giat bekerja. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Universitas Saga dan juga di Sekolah Dasar yang letaknya saling berdekatan. Sebelum berangkat bekerja, sang nenek biasanya pergi ke ‘supermarket pribadi’ miliknya. Yang dimaksud supermarket pribadi adalah sungai yang berada tepat di depan rumahnya.  Ada pasar didaerah dekat hulu sungai. sayuran yang tidak laku atau separuh cacat seperti lobak yang berujung dua dan mentimun yang bengkok biasanya dibuang ke sungai. Ia memasang galah sebagai penghalang benda yang terbawa arus sungai agar tersangkut galah tersebut .Dan sang neneklah yang dengan rutin memunguti sayuran yang terbawa arus tersebut dan mengambil bagian yang masih bagus yntuk dimasak. Ia menyebutnya “supermarket dengan pelayanan ekstra yang diantar langsung ke rumahnya dan tanpa biaya.”


Belum hilang kekaguman Akihiro tentang supermarket pribadi itu, ia kembali dibuat kagum oleh sang nenek saat ia pulang dari bekerja dengan mengikatkan tali pada pinggangnya yang diujungnya terdapat magnet. Sepanjang perjalanan pulang, benda-benda logam dan paku akan tersangkut di magnet tersebut yang kemudian akan dikumpulkan sang nenek untuk dijual jika sudah banyak. Berbagai cara unik dilakukan sang nenek demi menghemat uang. Walaupun miskin, namun sang nenek selalu tampak ceria dan punya ratusan akal untuk meneruskan hidupnya dan membesarkan cucunya.
 
Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan yang mereka jalani selalu penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikan. Keadaan tersebut secara tidak langsung telah memberi pelajaran yang sangat berharga untuk Akihiro. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pantang menyerah. Tidak jarang ia bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah atau di hari libur demi mendapatkan uang jajan. Prinsisp-prinsip hidupnya seperti mengakar pada ajaran sang nenek selama ia tinggal di Saga. 


Berlatarbelakang kisah nyata sang penulis Yoshichi Shimada yang menghabiskan masa kecilnya bersama sang nenek di Saga, Saga no Gabai Bachan merupakan novel yang seru, lucu dan mengharukan yang mampu mengaduk-aduk emosi sang pembaca dan juga membangkitkan kebahagiaan. Novel ini juga mampu membuat para pembaca tersentuh dan kagum pada kekuatan dan kepandaian seorang nenek dalam menghadapi kehidupannya. Hal lain yang juga penting adalah novel ini mampu membuat para pembaca berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup. Selalu ada sisi baik pada setiap keadaan di kehidupan kita. Tergantung bagaimana kita menghadapi keadaan tersebut.
 





Judul                             : Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis                          :Yoshichi Shimada (Nama aslinya Akihiro Tokunaga)
Penerbit Pertama          : Tokuma Shoten Publishing Co., Ltd.
Cetakan Pertama          : 2004 (Bahasa Jepang)
Penerbit kedua             :  Kansha Books
Cetakan pertama          :  April 2011 (Bahasa Indonesia)
Penerjemah                  :  Indah S. Pratidina
Jumlah Halaman          : 264 halaman
ISBN                            :  978-602-97196-2-8









Bitung, 17 Januari 2016
20:59 WIB


Jumat, 09 Oktober 2015

Resensi Novel "Cinta Isi Ulang" Karya Toni Yunanto





            Aldo, Yoga, Angga dan Irud adalah sekelompok anak muda yang memiliki hobi yang sama yaitu bermain music. Mereka membentuk sebuah band beraliran rock dengan nama B 417 AN (dibaca: Berempat satu tujuan). Walau mereka berkantong pas-pasan dan memiliki gengsi yang tinggi, tetapi mereka percaya bahwa hobinya tersebut tidak hanya untuk memuaskan batin saja, tetapi mereka juga bisa sukses dari pekerjaan yang sesuai minatnya tersebut.

            Perjalanan karir band mereka tidaklah mulus, demi membesarkan nama bandnya, mereka sering mengikuti kompetisi band dengan hadiah uang tunai yang lumayan. Namun, hadiah yang mereka terima selalu diberikan kepada pasangan mereka demi “mengisi ulang”cintanya.

            Pasangan mereka memang selalu menuntut materi, sedangkan kantong mereka yang pas-pasan tidak selalu mampu membelikan apa yang diinginkan pasangannya. Hingga tak jarang mereka harus berbohong kepada pasangannya. Walau sebenarnya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, namun mereka selalu berusaha memberikan apapun demi kebahagiaan pasangannya. Dengan kata lain, mereka rela banting tulang demi mengalahkan gengsi kepada pasangannya.

            Sampai suatu ketika, mereka bertekad untuk melakukan perubahan atas band nya. Mereka berniat untuk mengikuti festival besar di kota itu yang akan diadakan beberapa bulan kedepan, namun tantangannya adalah mereka harus membawakan lagu yang beraliran pop. Demi mengikuti festival tersebut, mereka semakin rajin mengasah kemampuan mereka di sebuah sekolah music dengan bekerja sebagai office boy. Disana mereka tidak semata-mata bekerja saja, tetapi juga mengamati bagaimana para insruktur mengajari murid-muridnya berbagai teknik dalam bermusik dan secara tidak langsung mereka juga mencuri ilmu dari sana. Perlahan tapi pasti, mereka mulai mendapat kemajuan dari kegigihannnya dalam belajar.         

            Hal itu terbukti ketika sekolah music tersebut menyelenggarakan festival solo vocal, gitar, bass dan drum. Mereka menyamar dan mengikuti festival tersebut dan kemudian keluar sebagai juara dalam masing-masing kategorinya. Secara kebetulan mereka ditawari untuk menjadi instruktur di sekolah music tersebut dan tentu saja mereka menerimanya dengan keuntungan mereka bisa terus belajar dan mengasah kemampuan mereka demi mengikuti festival bergengsi tersebut.

            Dengan kekompakan, rasa kekeluargaan, ketekunan, cinta dan tekad yang kuat mereka dapat manaklukan tantangan tersebut. Mereka akhirnya berhasil mengikuti festival tersebut dan menjadi juara pertama serta mendapatkan hadiah utama dengan jumlah besar. Mereka berhasil mengalahkan peserta lain yang mayoritas adalah seorang professional dalam bidang musik. Dengan kejujuran dan ketulusan, mereka juga akhirnya mendapatkan cinta sejatinya tanpa syarat atau tanpa isi ulang atau menuntut apapun apalagi harus berbohong. Karena cinta itu take and give, bukan always giving.











Tangerang, 
Jum'at, 09 Oktober 2015 
4:23 p.m.